Coretan

Jangar? Sarua!

‘Jangar’ itu Bahasa Sunda. Artinya pusing. Namun, maknanya bukan hanya sekedar sakit kepala. Bisa dibilang ‘jangar’ itu campuran antara pusing kepala dan pusing menghadapi berbagai macam masalah yang menimpa hidup kita.

Kemudian ‘sarua’. Iya, itu juga Bahasa Sunda. Artinya sama. ‘Sarua’ gak begitu punya makna tersirat. Dalam arti ketika disampaikan orang akan langsung paham maksudnya.

Sengaja saya urai dulu arti judul di atas karena bisa jadi tulisan saya ini dibaca oleh rakyat di luar Jawa Barat. Seperti dibaca sama orang Bali, Banyuwangi, Klaten, Banjarmasin, Palembang, Itali, Jerman, Somalia, dan Chad Afrika.

Sedikit bercerita, belakangan ini saya menghadapi curhatan banyak kawan. Mayoritas dari mereka mengeluh menghadapi hidup yang makin hari kian membosankan. Mereka pun sedikit-sedikit kerap mengucapkan ‘jangar’. Ya saya langsung paham karena ‘jangar’ juga sering kali hinggap dalam proses saya bernapas di muka bumi ini.

Memang menjadi ‘jangar’ itu manusiawi. Namun akan menjadi lebih memperkeruh persoalan ketika ‘jangar’, kita murang-maring dan kemudian menyalahkan banyak pihak.

Seperti si Aang Toke, sahabat saya. Ia mengaku pusing karena ditinggalin pacarnya yang padahal baru pacaran tadi malam. Jadian jam 1 dini hari, ditembak via SMS, lalu diputusin jam 11 siang pas si Aang Toke bangun tidur. Via SMS juga. Saya gak mau terlalu mengupahinya. Apalagi ngasih nasihat. Saya hanya bisa mendengar dan mengejek dalam hati. Kalau ngejek langsung saya khawatir dibabuk (dipukul). Soal cinta mah bukan main. Meski si Aang Toke humoris dan baik hati kalau diejek soal percintaan mah pasti tiba-tiba jadi ‘Anjing Edan’.

Namun, ya itu tadi. Si Aang Toke jadi malah murang-maring. Nyalahin mukalah, nyaliahin kolektor eksternalah, nyalahin tukang parkirlah, nyalahin Mang Jajang-lah yang gak tahu apa-apa. Parahnya di ujung dia juga menyalahkan Tuhan. Ya saya cuma manggut-manggut. Gak berani banyak komentar. Sebab bisa jadi saya juga bakal gitu ketika mengalami persoalan macam dia.

Esensinya pasti ‘sarua’! Saya juga pasti sakit hati dan ‘jangar’ jika mengalami masalah macam si Aang Toke. Bahkan akan lebih prustasi. Gak tau. Itu kemungkinan dan saya anggap manusia.

Saya hanya bisa mendengar curhatan si Aang Toke. Cukup miris. Saya hanya bisa ambil pelajaran dari cerita si Aang Toke. Meski dia bukan guru, tapi si Aang Toke bisa jadi pelajaran. Kisahnya an sich. Kalau mukanya gak layak jadi objek menyerap ilmu.
Jadi repot kalau misalnya kita selalu memaksakan diri hidup mengikuti ekspektasi kita. Padahal, Tuhan pasti punya skenario yang lebih seksi yang disediakan khusus untuk setiap makhluknya. Kadang, kitanya saja yang suka ‘ketuhan-tuhanan’. Sok iyes. Sehingga menjadi makhluk yang seolah-olah bisa melakukan banyak hal. Padahal kita mah hanya bubuk ranginang. Untung masih dikasih napas juga. Sama quota.

Apa yang kita angan-angankan paling benarnya cuma enol koma sekian persen. Lantas kenapa kita masih berangan-angan. Ya itu hak. Kamu betul! Cuma kalau ujungnya sakit hati dan menyalahkan Tuhan nu Agung? ‘Jangar’ terus kita.

Ini mah kata Kang Dadan K Ramdan. Satu-satunya guru besar saya bahwa jalani aja hidup apa adanya. Terus berbuat baik dan jangan banyak berangan-angan dan mengkhayal. Jangan curigai Tuhan. Karena Dia pasti ingin memberikan yang terbaik bagi setiap makhluk-Nya. Bukan pasrah! Kita harus tetap kerja keras. Cuma ingat gak usah juga kita bersandar ke makhluk lain. Gak usah takut sama orang yang terlihatnya besar, padahal di mata Tuhan belum tentu.

Tetap asik aja. Kecuali bersandar dalam perspektif lain. Misalnya Kamu cewek manis, boleh saya pinjamkan bahuku untuk sandaranmu. Ridho dunia akhirat. Amin.

 

Click to comment

Paling Populer

To Top