Coretan

Muka Kerdus

Gak usah bosan menjadi rakyat Indonesia. Bagaimana pun kondisinya, semua yang disediakan Tuhan di Indonesia sangatlah sempurna. Di Indonesia, rakyat yang katanya miskin masih mampu mengkredit motor. Walaupun di tiap bulan kepalanya sering kali dihinggapi kunang-kunang. Tapi itu dealektika. Berarti rakyat kita aslinya orangnya pada kaya-kaya. Cuma, barangkali kurang bersyukur.

Gak sepantasnya kita (manusia Indonesia) mengeluh diciptakan Tuhan tinggal di Indonesia. Se-kere-kere-nya kita, jika rajin silaturahmi, yang namanya makan gak susah-susah amat. Beda misalnya, kalau di Spanyol atau Somalia. Jangankan mau silaturahmi, memahami bahasanya aja rumit. Jadi sulit kalau mau minta makan.

Ya boleh diakui, di Indonesia gak sedikit makhluknya, memiliki hobi melakukan praktik korupsi, bermuka kerdus atau gak tau malu, dan, meskipun pintar, suka merepotkan rakyat. Tapi nyatanya, kita asyik-asyik aja. Soal yang waktu itu nabrak tiang listrik pun sama kita mah dijadikan bahan lelucon. Yang populer malah tiang listriknya. Maka, apes jadi koruptor di Indonesia karena kalau ketangkep jadi bahan ejekan seluruh rakyat Indonesia. Dan saya yakin itu lebih apes, jika dibandingkan, misalnya, hanya dihukum selama tiga atau empat tahun. Malunya, pasti luar biasa.

Saya pikir, realita oknum orang Indonesia yang bermuka kerdus atau kardus saat ini sudah menjadi hal yang biasa. Bagi mereka, yang namanya menjaga kemaluan itu gak penting-penting amat. Maka wajar di Indonesia banyak lahir orang-orang yang instan yang kerjaanya nipu dan menyepelekan rakyat.

Gak begitu sulitnya menjadi penguasa di Indonesia, menandakan bahwa kita memang orang yang terlalu asyik. Kita kerapkali mendiamkan, orang yang harusnya fokus jadi tukang parkir, malah dijadikan anggota dewan. “Kemudian, orang yang harusnya fokus jualan batu bata malah dijadikan kepala daerah.

Padahal hidup orang itu punya makomnya masing-masing. Semuanya memang aktivitas mulya, tapi jika kerjaanya gak sesuai dengan kemampuanya, mau jadi apa Negara kita ini?” tanya si Aang Emur saat berdiskusi dengan Pak Guru Kosim.

“Gak usah malah ikutan repot. Biarkan saja. Ini semua sudah jadi kehendak Tuhan. Nanti juga keliatan mana yang pada gilirinya akan dipermalukan Tuhan di hadapan seluruh rakyat. Siap-siap aja dibully di Twitter, Facebook, dan lain-lain,” jawab Pak Guru Kosim.

“Ouh iya-iya,” kata Aang Emur.

“Ya memang begitu. Kita mah tetap aja menjadi orang santai. Pagi ngopi, siang ngaredok (makan karedok), dan malam ngopi lagi sampai mati.”

“Hahaha. Betul.”

Penulis: Ibon
Painted by KangMas Bambang Sumantri

 

32 Comments

Paling Populer

To Top