Coretan

Filosofi Ulekan

SEMUA manusia, terutama orang Indonesia pasti tau peran dan fungsi Ulekan dalam kehidupan sehari-hari. Kongretnya digunakan untuk membuat sambal atau bumbu rujak. Dan, Ulekan terbuat dari batu, kadang dibuat dengan bahan kayu dan tanah liat. Ada juga yang bilang bahwa zaman manusia purba jutaan tahun lalu ada yang buat Ulekan dengan bahan rel kereta. Tentu aku gak percaya karena waktu itu gak ada stasiun, apalagi Bandara Soekarno-Hatta.

Kalau di aku mah Ulekan itu Mutu. Mutu itu Bahasa Sunda. Berarti Bahasa Indonesia yang baik dan benarnya itu Ulekan. Kurang lebih seperti itu.

Kemudian, Ulekan atau Mutu pun gak bisa bekerja jika tidak ada objek untuk menyempurnakan fungsinya. Yakni Cobek atau, kalau istilah Sunda-nya Coet. Jika tanpa Coet, tentu Mutu akan melakukan hal-hal yang membuat kepala orang Benjol atau Benyut. Misalnya, ketika seorang istri sedang marah kepada suaminya karena selingkuh yang kemudian memanfaatkan Mutu untuk memborbardir suaminya tersebut.

Kedua alat me-nyambal itu pastinya gakkan bisa digunakan kalau gak ada makhluk yang menggerakkannya. Tentu manusia. Kalau misalnya Pocong, saya belum begitu tau bagaimana ia menfaatkan kedua alat tersebut. Apalagi binatang seperti Biayawak atau Monyet. Yang ada di pikiran mereka pasti bagaimana cara memakan atau menyerangnya. Karena di otak dua binatang itu hanya ada dua bayangan. Yakni makanan dan musuh.

Oke, aku kira, tanpa terlalu panjang lebar, Kamu semua pasti sudah paham apa fungsi kedua alat tersebut. Namun sekarang aku akan membahas Mutu secara mendalam. Pastinya gak hanya sedalam sumur. Lebih dari itu. Kalau sumur masih terukur oleh materi. Ini mah lebih dalam itu. Sumpah.

Aku berpikir, Mutu atau Ulekan itu ibarat pemimpin atau calon pemimpin seperti Presiden, Gubernur, Bupati, Kades, RW, dan RT. Bagaimana salah satu tugasnya yaitu menyatukan masyarakat agar saling melangkapi satu sama lain agar suatu Negara atau daerah mampu berkembang dengan baik. Atau istilah lainya bagaimana pemimpin mampu meracik (ngulek) dengan pengetahuan agar terciptanya masyarakat yang selalu hobi hidup damai yang pada gilirannya akan terlihat asik dan menarik.

Jika boleh menganalogikan masyarakat bisa seperti bahan sambal. Manusia ada yang mirip (sifatnya) dengan bahan sambal semisal cabe, garam, bawang, gula merah atau putih, dan yang sekarang sedang populer dan kerap kali jadi konsumsi anak zaman now yaitu micin. Semuanya harus ada, agar rasa sambal menjadi enak dan gurih. Tentu jika hilang salah satunya atau misalnya dua bahannya hilang, rasanya akan gak terlalu enak. Bahkan gak enak sama sekali. Begitupun masyarakat. Kalau gak beragam rasa (sifatnya)-nya gak akan menarik.

Lalu Cobek atau Coet disimbolkan sebagai suatu Negara dan Daerah. Berfungsi sebagai objek atau alat untuk meracik tataran masyarakat. Tanpa tanah Ibu Pertiwi bagaimana pemimpin mampu melaksanakan tugasnya sebagai tukang ngulek hidup rakyat. Jika nguleknya keliru atau asal-asalan! Maka bakalan terwujud masyarakat yang aneh seperti zombie dan ririwa.

Dalam gak bahasannya? Kalau kurang dalam, gali aja kuburan Kamu sendiri. Cag.

#TulisanAinkKumahaAink

 

 

 

 

 

 

 

Click to comment

Paling Populer

To Top