Coretan

Dasar Gogog!

ilustrasi/net

SAYA berani bertaruh, gak ada satu pun manusia yang ingin dipanggil Gogog. Sebab, Gogog dianggap binatang najis sekaligus berbahaya jika giginya menancap di leher kita. Bahkan, gak sedikit manusia bumi menganggapnya sebagai makhluk hina dan gak layak dipelihara.

Kendati seperti itu, ternyata Gogog malah digunakan sebagai penambah kata dalam bahasa sehari-hari. Ia dimanfaatkan manusia untuk menghina atau sekedar bercanda dengan sahabat atau temannya. Contohnya (saat bersenggama dengan kawan): “Dasar Gogog” Atau “Hey Gogog mau ke mana” dan lain sebagainya. Tentu sebenarnya berbahasa seperti itu enggak baik dan gak terpuji. Namun, sebenarnya gak akan jadi soal jika dilontarkanya kepada sahabat dekat. Dan kemudian, akan menjadi berbahaya jika Kamu ber-Gogog kepada orang yang baru kenal atau enggak kenal sama sekali.

Anehnya manusia, terkadang lontaran Gogog dilesatkan juga kepada binatang lainnya. Padahal kan Gogog jelas-jelas binatang. Semisal ke Kucing yang nyolong makanannya. “Eh dasar Gogog makanan Gua diembat. Kurang ajar!” Demikian, sambil melemparnya dengan batu atau sapu. Tentu, Kucingnya akan tersinggung dan bengong sendiri karena merasa bahwa dirinya adalah seekor Kucing mengapa harus dipanggil Gogog?

Ouh iya sebelum lanjut, saya akan menjelaskan dulu arti sebenarnya Gogog. Gogog itu Bahasa Sunda yang Bahasa Indonesia-nya adalah Anjing. Kenapa saya gak nulis secara vulgar, karena istilah Anjing sangat sensitif. Sedangkan Gogog, dalam bahasa keseharian orang Sunda dianggap gak kasar dan gak pernah sama sekali digunakan untuk sekedar mengejek atau menghina orang. Barangkali, saat ini saya menggunakan Gogog hanya sekedar sebagai perubah kata karena saya khawatir jika menggunakan kata Anjing bakal dihujat orang bahkan dianggap melanggar kode etik kemanusian dan kebinatangan.

Selain itu, saya pun khawatir, pembaca saya yang dari Qatar, Ukraina, Swedia, Ethiopia, Jamaika, dan yang lainnya gak paham yang saya maksud. Makanya, perlu bagi saya menjelaskan itu. Karena kalau istilah Anjing saya pikir mereka bisa menerjemahkanya di Google Translate.

Kembali ke soal Gogog. Saya ingin sedikit mengungkap sebuah kisah yang menceritakan soal Gogog di zaman kerjaan Arabia ribuan tahun yang lalu:

Pada zaman dahulu kala ada seorang Raja yang gagah berani, kuat dan dikenal sebagai Raja yang ganas dan kejam. Akan tetapi, yang namanya manusia tetap saja ada sisi kebaikannya. Namun, terkadang kebaikannya itu berubah menjadi kejahatan. Ia bisa saja hari ini baik ke abdinya, tapi dengan cepat ia pun bisa jahat kepada orang yang setia sekali pun kepadanya.

Memang serba salah. Ya wajar juga sih, seorang penguasa bebas melakukan apapun. Bahkan mau setiap hari mencincang orang pun akan dibiarkan karena kita merasa gak bisa bebuat apa-apa.

Untuk memusnahkan orang yang dibenci dan dianggap musuh Sang Raja, ia memelihara Gogog yang memiliki nyali seperti Singa dan kekuatannya bagaikan Naga sakti. Bahkan, bukan hanya musuh, orang terdekatnya pun kalau saja membuat kesalahan meskipun kecil akan ditumbalkan kepada Gogog-Gogog yang haus akan darah itu.

Dalam kisahnya, ada seorang abdi Sang Raja, masih muda cerdas sekaligus cerdik. Ia sudah berpikir jauh-jauh hari bahwa dirinya suatu saat nanti gak menutup kemungkinan akan juga menjadi santapan Gogog-Gogog ganas itu.

Ia berpikir keras. Apa yang kemudian ia lakukan? Secara berlahan ia mendekati penjaganya (penjaga Gogog) dalam rangka pendekatan. Ia memberi penjaga sedikit logam dan sedikit makanan secara bertahap agar mereka baik kepada seorang pemuda tersebut. Selanjutnya, ia meminta izin kepada penjaga agar diizinkan memberi makan kepada Gogog-Gogog ganas itu. Para Gogog ia beri potongan daging bahwa ia rela ngasih satu ekor kambing demi mendekatkan diri kepada para Gogog yang haus darah itu.

Akhirnya pemuda itu berhasil. Para Gogog bertekuk lutut di hadapannya. Bahkan mereka bermanja-manja sambil menjilati dengan ramah seorang pemuda itu.

Tepat sekali prediksinya. Suatu ketika pemuda itu membuat kesalahan kecil sehingga membuat Sang Raja murka. Padahal jika dikalkulasi, keselahan dia hanya enol sekian persen jika dibandingkan dengan pengabdiannya terhadap raja yang hitungannya jutaan persen. Sejurus kemudian Sang Raja memerintahkan prajurinya untuk melempar pemuda itu dengan diikat tali ke kandang Gogog yang haus akan darah itu.

Apa yang terjadi? Gogog-Gogog itu malah menjilat-jilat dan bermanja-menja kepada seorang pemuda itu. Tentu Sang Raja bingung dan kaget. Biasanya ia menyaksikan keganasan Gogog yang sulit sekali digambarkan.

Dengan agak bersabar, Raja itu kembali menarik sang pemuda dan kemudian bertanya, “Kenapa ini bisa terjadi?”

Kemudian seorang pemuda itu menjawab dengan gagah berani, “Yang Mulia Raja, saya sudah tahu apa yang akan Anda lakukan kepada saya. Makanya, saya secara berlahan melakukan pendekatan kepada Gogog-Gogog yang dianggap Raja lapar akan daging-daging manusia dengan memberinya sedikit makanan. Harus Raja pahami, ternyata soal kebijaksanaan dan solidaritas Gogog-Gogog itu lebih baik dibandingkan Raja yang dianggap sebagai penguasa gagah berani!”

Bukannya marah dan murka, Sang Raja malah menunduk dan mengakui kesalahanya. Semenjak itu ia jadi sadar bahwa kemulyaan enggak bisa dinilai dengan ucapan. Tapi dengan tindakan yang terpuji.

Pelajarannya adalah, ternyata soal kesetiaan dan ketahudirian seyogyakanya kita belajar dari Gogog. Ia belum pernah mengkhinati makhluk yang dianggapnya pernah melakukan kebaikanya kepadanya. Bahkan ia rela jadi pengkhiat demi mempertahankan kebenaranya. Kesimpulannya, jagalah Gogog-mu agar tidak dilontarkan kepada sembarang orang. Sebab, Gogog sesungguhnya mahluk mulya yang gak layak disepelekan dan dianggap gak berguna. Cag.

 

Click to comment

Paling Populer

To Top