Coretan

Belajar Apa Adanya dari Ega Nugraha

JADI makhluk apa adanya itu enggak mudah. Gak sedikit manusia bumi mempertimbangkan hidupnya untuk menjadi diri sendiri. Mereka lebih suka hidup dengan cara ngikutin gaya orang lain. Padahal, kebahagiaan itu muncul ketika kita sadar bahwa percaya diri atau hidup apa adanya adalah solusi terbaik dalam menjalani hidup.

“Kurang lebih seperti itu,” ujar sahabat saya, Ega Nugraha, suatu ketika.

Ega itu sahabat saya dari kecil. Atau istilah Sunda-nya mah, kawan sagulung-sagalang (kurang paham apa Bahasa Indonesia-nya). Dulu kita sama-sama belangsak. Ya sekarang juga “agak”. Cuma, enggak terlalu. Masih ada mendingnya, karena saat ini kita sama-sama punya pekerjaan.

Setidaknya, Ega Nugraha adalah salah satu kawan yang mempengaruhi hidup saya. Enggak sedikit pelajaran hidup yang saya dapat dari pria kelahiran Purwakarta, 14 Februari 1989 ini.

Orang enggak bakal percaya dengan sifat asli yang dia dimiliki. Sepintas orang akan menilai bahwa Ega Nugraha adalah makhluk slengan, urakan, berantakan, acak-acakkan, dan lain semacamnya. Padahal, jika didalami dan sedikit tabayun, aslinya dia manusia yang sebagian tindakanya layak untuk dicontoh. Seperti misalnya, nyontoh keberaniannya, kesetiakawannya kepada teman, dan yang terakhir kesederhanaan dan selalu menjunjung tinggi nilai ke-apa ada-an.

Dia pernah bilang, “Hidup mah apa adanya aja. Berusaha untuk jadi diri sendiri. Jika kita mampu, kita enggak perlu lagi nasihat dari orang lain.”

Maksud dia, bukan berarti kita dilarang mendengarkan nasihat orang. Tepatnya, kita enggak usah mendengar perkataan orang yang mencoba ngatur kehidupan atau gaya kita.

“Yang penting peace,” kata Ega juga.

Hidup apa adanya dan jadi diri sendiri tentu perlu keberanian. Orang yang mentalnya kayak Cacing tampaknya susah menjalani hidup dengan mengikuti kata hati.

“Badan boleh kayak Cacing, tapi mental jangan sampai. Mending kayak Toke, daripada kayak Cacing. Hahaha,” ujar dia yang mungkin menurunya lucu, tapi untuk menghargai saya juga ikut ketawa sekali, “Ha!”.

Dulu, sepuluh tahun yang lalu, saya pernah nanya ke dia, “Cita-cita jadi apa?” Dengan tegas Ega Nugraha menjawab, “Jadi Monyet yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa. Hahahha.” Kalau yang ini lucu, tentunya saya ikut ketawa sambil kembali bertanya, “Hahahaha. Terus mau ngapain lagi?”

Dengan santai dia menjawab, “Intinya jadi apa aja bebas. Yang penting jangan pernah nyakitin orang. Masih mending jadi Monyet, daripada jadi Tikus yang menggerogoti harta rakyat!”

“Sepakat,” kata saya dan kemudian sedikit menanggapi, “Anda mantap. Semoga kalau mati Anda masuk Surga. Amin!”

“Mangga tipayun (Silahkan duluan).” Demikian jawabnya.

“Hahaha dasar Mon**t!”

 

 

 

Click to comment

Paling Populer

To Top