Informasi

Nu Ageung, Nu Agung, dan Nu Gelo

Hidup itu pilihan. Mau jadi Presiden, Gubernur, Bupati, Kader NU, HMI, PMII, GMNI, PMKRI, bahkan jadi Kera atau Bayawak (Biyawak) pun itu hak Kamu semua. Cuma, menurut saya, jangan pernah mau jadi Bajigur, soalnya, udah mah keruh malah terus dikucek-kucek. Nahas.

Ada beberapa kategori manusia atau orang yang saya pahami. Pertama, orang besar. Bahasa Sunda-nya Jalma Ageung, atau singkatnya Nu Ageung. Orang besar memiliki kecerdasaan luar biasa. Ia pandai memanfaatkan momentun untuk melanggengkan kekuasaanya. Ia pun bisa ikut alur ke mana pun agar kekuasaanya punya citra cantik dan baik.

Nu Ageung pun punya sifat tegas, kasar, bahkan licin. Ia mampu menciptakan atau mengendalikan sejarah. Nu Ageung lebih condong ke persoalan horizontal. Kalau fokus dan pandai menjaga nama baik Nu Ageung akan selalu dikenang sampai kapanpun.

Ouh iya, Jalma Ageung yang saya maksud bukan juga orang yang bertubuh besar. Sebab, tubuh besar belum tentu memiliki kualitas baik dan mampu menciptakan sejarah.

Kedua, Nu Agung atau Jalma Agung. Bahasa Indonesianya Manusia atau Orang Agung. Ia sama sekali gak peduli dengan kekuasaan atau jabatan. Di pikirannya hanya ada pengabdian. Dia orang jujur, bijak, dan penyabar. Meski gak begitu popular, Nu Agung selalu ada dalam hati masyarakat. Karena bathinnya sudah sangat teruji, maka wajar bathin orang akan selalu terkoneksi kepada orang tersebut.

Jalma Agung lebih berkaitan dengan vertikal. Tentu berbeda dengan Jalma Ageung. Keduanya punya nilai. Soal mana yang lebih bernilai, hanya Tuhan yang lebih berhak menilai.

Nah kemudian, yang ketiga yaitu orang gila. Bahasa Sundanya Nu Gelo atau Jalma Gelo.

Nu Gelo ada dua tipe. Pertama Gila beneran. Kedua Gila akan setiap tindakannya. Maksudnya, tindakan yang lebih condong ke hal yang positif, progresif, dan visioner.

Nu Gelo visioner sulit sekali dinilai. Kadang, Nu Gelo campuran sifat Ageung dan Agung. Ia melakukan hal demi kepentingan horizontal dan vertikal dengan gaya yang gak umum. Maka wajar jika dia kadang dimaki, kadang juga dimulyakan. Sebab sulit sekali ditebak. Gak peduli dengan popularitas, tapi popular. Gak peduli dengan kekuasaan, tapi malah langgeng kekuasaanya. Nah Nu Gelo kayak gitu.

Tinggal pilih mau jadi apa? Bebas. Jadi Nu Gelo yang sering jalan compang-camping pun mangga. Yang jelas jangan pernah mau jadi orang “stress”. Sebab dia gak punya tujuan jelas dan kelakuannya lebih-lebih seperti orang gila jalanan.

Hampir lupa, ada satu lagi yang bikin ngenes. Yakni Jalma Ageung yang diageungkan. Semisal, pejabat Negara yang dijadikan oleh orang dekat atau saudaranya. Meski jadi pengusaha ia akan menjadi manusia menderita dan gak bakal memiliki nilai sejarah yang baik. Bahasa Sundanya mah, kasesered!

1 Comment

1 Comment

  1. Half viagra

    11 Juni 2020 at 6:01 pm

    Thanks so much for the post.Much thanks again. Really Cool.half viagra

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Paling Populer

To Top